“Bang, lensa ini jamurnya udah merambah ke tengah. Harga 4 jutaan. Deal?”
Gue baru nerima WhatsApp dari temen fotografer. Isinya foto lensa 50mm. Kaca depannya keruh putih. Kayak kaca mobil yang udah 10 tahun nggak pernah dicuci.
Gue kira dia beli buat diperbaiki. Ternyata nggak.
“Ini buat nge-shoot, Bang. Jamurnya bagus banget bentukannya. Kayak awan.”
Gue cengo. Lensa jamur? Diburu?
Tapi setelah gue riset, ternyata ini lagi tren di kalangan fotografer Jakarta 2026. Namanya post-perfect photography — aliran yang nolak foto tajam mulus hasil AI. Dan memilih keaslian dalam kesalahan.
Mereka buru kamera CCD jadul yang noisenya gila. Lensa yang udah berjamur. Bahkan kamera rusak yang hasil fotonya nggak bisa ditebak.
Kenapa? Karena di era AI bisa bikin foto apa pun dengan sempurna, ketidaksempurnaan jadi barang langka.
Gue pelan-pelan ya. Ini cerita panjang tentang orang-orang yang sengaja cari masalah biar hasil fotonya punya ‘jiwa’.
Post-Perfect Photography: Ketika AI Terlalu Sempurna, Manusia Cari Cacat
Define dulu: post-perfect itu bukan berarti fotonya jelek. Tapi menolak standar ‘sempurna’ yang diajarkan algoritma dan AI.
Di 2026, AI kayak Midjourney dan DALL-E 4 udah bisa bikin foto realistik yang nggak bisa dibedain sama hasil kamera sungguhan. Bahkan lebih sempurna. Nggak ada noise. Nggak ada distorsi. Fokusnya tajam semua. Warnanya ‘pas’.
Tapi… hambar.
Fotografer mulai sadar: kesempurnaan itu membosankan.
Mereka rindu sama karakter yang nggak bisa dibuat AI. Kayak:
- Noise dari sensor CCD jadul yang kasar dan organik
- Vignette nggak beraturan dari lensa tua
- Lens flare yang muncul karena coating lensa udah terkikis
- Jamur di lensa yang bikin foto kayak ada kabut misterius
- Shutter yang macet bikin exposure setengah-setengah
Ini semua error. Tapi error yang punya nilai estetika.
Kata seorang kurator seni di Jakarta (fiktif tapi nyata ada): “Di era digital, ketidaksempurnaan menjadi kemewahan terakhir.”
Dan data mendukung:
Survei fiktif dari Jakarta Visual Arts Index 2026 (n=500 fotografer profesional & komersial):
| Aspek | Persentase |
|---|---|
| Merasa jenuh dengan hasil foto AI/gambar generatif | 78% |
| Mulai mencari defect dan error sebagai elemen estetika | 64% |
| Membeli lensa bekas berjamur dalam 1 tahun terakhir | 43% |
| Sengaja mencari kamera CCD jadul meskipun spek ‘kalah’ | 37% |
| Menganggap “foto yang terlalu sempurna” itu tidak autentik | 58% |
43 persen udah beli lensa jamur. Bukan karena nggak tahu. Tapi karena sengaja.
Tiga Fotografer Jakarta yang Jadi ‘Pemburu Kerusakan’
Kasus 1: Andra, 34 tahun, fotografer komersial yang lelah dengan retouching
Andra selama ini kerja buat klien besar. Produk. Kuliner. Hasilnya harus mulus, tajam, enak dilihat.
Tapi dadah, dia stres. “Setiap hari retouching. Hilangkan debu. Hilangkan flare. Bikin warna ‘perfect’. Gue nggak ngerasa jadi fotografer. Gue ngerasa jadi tukang edit.”
Dia mulai iseng beli lensa 50mm vintage dari tahun 80-an. Harganya cuma 1,2 juta. Coatingnya udah lecet. Lumenya nggak tajam.
Pertamakali dia pake buat personal project foto jalanan di Kota Tua. Hasilnya? Soft. Kayak lukisan. Warnanya agak cyan di pinggir.
“Itu pertama kali dalam 5 tahun gue ngerasa foto gue punya ‘suara’.”
Sekarang dia punya koleksi 7 lensa vintage bongsor, semua berjamur. Dia bahkan nggak berniat bersihin jamurnya.
“Jamur itu yang bikin karakter. Tiap lensa punya bentuk jamur beda. Kayak sidik jari.”
Kasus 2: Mira, 28 tahun, fotografer seni yang dijuluki ‘Ratu CCD’
Mira nggak pernah suka kamera mirrorless modern. “Terlalu pintar. Autofokusnya cepet banget. Hasilnya kayak… plastik.”
Dia malah koleksi kamera CCD jadul dari tahun 2005-2010. CCD (Charge-Coupled Device) adalah sensor kamera sebelum CMOS. Kelebihannya: warna lebih ‘menggigit’ dan noise-nya lebih artistik.
Kekurangannya? ISO maksimal 1600. Autofokus lemot. Baterai cepet habis.
Tapi Mira justru suka. “Gue suka noise di ISO 800. Kayak film grain, tapi lebih organik. Nggak bisa ditiru filter Instagram.”
Dia sekarang punya 12 kamera CCD. Harganya? Murah. Karena kebanyakan udah dianggap ‘sampah’ sama toko kamera. Paling mahal 3 jutaan.
Dan hasil fotonya? Dilirik galeri di Singapura.
“Klien gue sekarang malah request pake kamera CCD. Mereka bilang fotonya ‘lebih berasa’.”
Kasus 3: Bono, 41 tahun, fotografer produk yang ‘menyabotase’ kameranya sendiri
Bono paling ekstrem. Dia sengaja ngerusak lensa.
*”Gue beli lensa kit 18-55mm bekas 500 ribuan. Terus gue gores bagian depannya pake amplas. Sedikit aja. Biar biasanya nggak beraturan.”*
Hasilnya? Foto jadi punya efek ‘dreamy’ yang nggak bisa direplikasi pake filter.
Dia juga sengaja makinin jamur di lensa lain. “Gue simpan lensa di lemari lembab 2 minggu. Pakai spayer air. Jamurnya tumbuh subur.”
*Lo tahu nggak, efek jamur di foto itu kayak kabut tipis yang bikin highlight menyebar. Kayak soft focus versi alami.
Klien dia awalnya kaget. “Ini fotonya kok nggak tajam?”
Dia jelasin: “Ini ‘post-perfect’. Ini nggak akan bisa dibuat AI.”
Sekarang dia punya waiting list klien yang minta gaya foto ala Bono.
Gue cuma bisa geleng-geleng. Tapi hasil fotonya… gila sih. Kayak lukisan impresionis.
Statistik: Pasar ‘Kamera Rusak’ Meledak di 2026
Data fiktif dari Used Camera Market Report 2026 (Indonesia):
| Jenis Barang | Kenaikan harga (2024 → 2026) | Rata-rata harga 2026 |
|---|---|---|
| Kamera CCD (2005-2010) | +320% | 2,5 – 4 juta |
| Lensa vintage berjamur | +180% | 1 – 5 juta |
| Kamera rusak (shutter error) | +95% | 500k – 2 juta |
| Lensa lecet coating | +150% | 800k – 3 juta |
Kamera CCD yang dulu cuma 500 ribuan sekarang 3 jutaan. Lensa jamur yang dulu nggak laku sekarang jadi rebutan.
Bahkan ada komunitas khusus di Telegram dan Discord: “Jamur Hunter JKT” — 4.000 anggota. Mereka saling bagi info toko loak yang jual lensa tua, tempat servis yang nggak bersihin jamur (dibiarkan), dan tips memperparah jamur secara terkontrol.
Fotografer sekarang nggak ke toko kamera baru. Mereka ke pasar loak, ke toko barang rongsokan, ke jualan getok di pinggir jalan. Semakin tua dan rusak, semakin mahal.
Mengapa ‘Kesalahan’ Jadi Lebih Berharga dari ‘Kesempurnaan’?
Jawabannya simpel: AI nggak bisa bikin error yang otentik.
AI bisa bikin foto vintage. Bisa tambahin grain. Bisa bikin lensa flare. Tapi AI nggak akan pernah bisa bikin jamur di lensa yang tumbuh alami selama 10 tahun. Atau cacat coating karena lensa pernah jatuh.
Error yang dihasilkan AI itu predictable. Error alami itu random dan unik.
Dan di 2026, dengan banjirnya konten AI di mana-mana, keunikan jadi komoditas paling langka.
“Setiap orang bisa minta AI bikin 1000 foto dalam 5 menit,” kata Andra. “Tapi nggak ada yang punya foto dengan lensa jamur bentuk kayak daun. Karena jamur itu nggak bisa di-repeat.”
Ini namanya The Authenticity of Error — keaslian dalam kesalahan.
Common Mistakes: Yang Salah Kaprah Soal Post-Perfect Photography
❌ Mistake 1: “Pake filter Instagram sama aja”
Beda. Filter itu algoritma. Hasilnya bisa diulang. Klik -> efek. Banyak orang bisa punya efek yang sama.
Sedangkan lensa jamur? Hasilnya random. Tergantung cahaya. Tergantung sudut. Tergantung seberapa parah jamurnya.
Dan itu nggak bisa direplikasi.
❌ Mistake 2: “Lebih murah daripada lensa baru”
Iya dan nggak. Iya, lensa jamur bekas bisa 500 ribuan. Tapi lensa jamur langka dengan bentuk jamur estetik bisa dijual jutaan.
Beberapa fotografer bahkan ngoleksi lensa jamur kayak koleksi barang antik. Makin unik pola jamurnya, makin mahal.
Ini bukan lagi ‘murah’. Ini ‘investasi’ — dalam hal estetika.
❌ Mistake 3: “Semakin parah jamur, semakin bagus hasilnya”
Nggak juga. Jamur yang terlalu parah bikin foto jadi terlalu buram. Kayak difuser. Nggak ada detail sama sekali.
Yang dicari itu jamur di tahap ‘early to medium’. Masih ada area bening. Masih ada kontras. Jamurnya kayak aksen, bukan dominan.
❌ Mistake 4: “Beli kamera rusak = bodoh karena nggak bisa dipake”
Tergantung jenis kerusakan. Shutter error yang bikin exposure acak-acakan — itu yang dicari. Atau autofokus rusak yang bikin fokus ngejar-ngejar.
Tapi kalau kameranya nggak bisa nyala sama sekali, ya nggak guna.
Repetisi: CARI KERUSAKAN YANG MASIH BISA DIKONTROL, BUKAN YANG MATI TOTAL.
Practical Tips: Cara Mulai Post-Perfect Photography (Tanji Jadi Kolektor Sampah)
Urutan dari yang paling aman ke yang radikal:
1. Coba lensa tua adapter ke kamera modern lo
Beli adapter (200-500 ribu) + lensa vintage bekas murah (500 ribu – 1,5 juta). Cari lensa dari tahun 70-90an. Nggak usah peduli jamur dulu. Rasain dulu beda karakter lensa tua. Softer. Lebih berwarna.
2. Cari lensa dengan coating lecet (bukan jamur)
Coating lecet bikin lens flare lebih gampang muncul. Dan flare-nya berwarna-warni kayak pelangi. Ini efek yang nggak bisa dibuat filter.
Dan lebih aman buat kesehatan (nggak hirup spora jamur).
3. Kalau mau coba lensa berjamur… pake masker
Serius. Jamur di lensa itu tetap jamur. Sporanya bisa terhirup. Kalau lo punya alergi atau asma, bisa bahaya.
Gue saranin: beli lensa berjamur, taruh di ruangan terpisah dulu. Bersihin bagian luar pake alkohol. Baru pake.
4. Jangan sengaja ngerusak lensa mahal!
Bono yang ngerusak lensa pake amplas itu ekstrem. Jangan ditiru kalau lo nggak punya duit lebih.
Mulai dari lensa murah (<500 ribu). Coba gores dikit. Lihat hasilnya. Kalau suka, baru lanjut.
5. Gabung komunitas ‘defect photography’
Cari di Facebook/Telegram: “Lensa Tua Jakarta”, “CCD JKT”, “Jamur Hunter Indonesia”. Tanya pengalaman mereka. Mereka ramah dan suka bagi info.
Etika vs Estetika: Jamur di Lensa, Bahaya di Paru-paru?
Ada dilema: jamur di lensa itu keren untuk foto, tapi berbahaya untuk fotografer.
Spora jamur yang terhirup bisa sebabkan alergi, asma, bahkan infeksi paru-paru kalau terus-terusan.
Makanya, fotografer post-perfect yang serius punya protokol:
- Simpan lensa jamur di dry box terpisah dari lensa bersih
- Bersihkan bagian luar lensa sebelum dipake
- Gunakan blower bukan tiupan mulut (biar spora nggak beterbangan)
- Cuci tangan setelah pegang lensa
Estetika itu penting. Tapi paru-paru lebih penting.
Masa Depan: Apakah AI Akan Bisa Tiru ‘Error’ Ini?
Mungkin. Dalam 5-10 tahun, AI mungkin bakal bisa bikin error yang random dengan tingkat keunikan tinggi.
Tapi sampai saat itu, fotografer dengan lensa jamur dan kamera rusak punya asli yang nggak bisa diganti.
“Gue nggak takut sama AI,” kata Mira. “Karena AI nggak akan pernah merasakan sensasi pertama kali liat jamur di lensa tumbuh bentuk kayak bunga. Dan AI nggak akan pernah se-sabar gue hunting kamera CCD di toko loak pinggir jalan.”
Itu pengalaman manusia. Dan pengalaman itu yang bikin foto kita punya jiwa.




